AKHIR
SEBUAH PENANTIAN
Karya : Maulana Ikhsan
Aku hidup bukan untuk menunggu cintamu.
Sulit ku terima semua keputusan itu.
Yang kini hilang tersapu angin senja.
Masih sulit pula untuk ku lupakan.
Suram dan seram jika ku ingat kembali.
Mungkin harus ku biarkan semua kenangan itu,
agar abadi oleh sang waktu.
Pagi
ini cerah, hangat mentari yang bersinar dan sejuk embun di pagi itu membuat
semangat untuk menuntut ilmu makin bertambah. Ku percepat langkahku. Seusai
sekolah, ada ekstrakulikuler seni tari dan aku pun mengikutinya. Masih belum
beranjak dari tempat duduk ku. Dari arah belakang terdengar suara yang memanggilku.
“Idaaa, tunggu !”
Aku
pun melihat ke belakang “Kamu Raff, ada apa kok sampai tergesa-gesa ?” tanyaku
penasaran.
“Emmm, ada yang mau kenalan sama kamu !”
“Tapi Raff, udah mau masuk kelas seni tarinya”
“Ya telat dikit kan gakpapa”.
Aku
tidak menjawabnya. Aku bergegas pergi menuju kelas seni tari. Aku simpan
kata-kata Raffi tapi aku tidak memikirkannya disaat aku sedang mengikuti seni tari.
Hari
ini aku sengaja berangkat pagi, aku ingin menikmati udara pagi, walaupun jarak
antara rumah dan sekolah dekat. Sewaktu istirahat aku kembali ingat dengan
kata-kata Raffi kemarin siang. Siapa dia? Anak mana? Namanya siapa? Berbagai
pertanyaan mulai bermunculan di benakku. Hingga aku tak sadar jika aku sedang
melamunkannya.
“Hey hey, mikirin siapa sih kamu?” Tanya Ega yang membuyarkan lamunanku.
“Ha? Aku gak mikirin apa-apa tuh!”
“Kok ngelamun sih? Haaa, masih keinget ya sama kata-kata Raffi kemaren?”
“Ehh, apaan sih, mentang-mentang pacar Raffi terus kalian ngejek gitu, ahh gak
asyiik”
“Ya ya, Cuma bercanda kok”
Tiba-tiba Raffi datang menemuiku. Entah apa lagi yang akan ia sampaikan
kembali. Aku sendiri tidak berharap jika kata-kata itu lagi yang akan ia
sampaikan.
“Daa, ikut yuk, dia mau ketemu kamu, tuh udah ditunggu di kantin” ajak Raffi.
“Ahh, engga ahh, biarin aja dia samperin”
“Kok gitu? Ya udah deh, ini kesempatan loh, kok malah kamu sia-siain” Ucapan
Raffi didengar oleh Layla, yang juga saudara Raffi.
“Ehh, ada apaan nih, keliatannya seru! Ada apa sih Raff, kok gak
bilang-bilang?”
“Gak ada apa-apa, udah nanti aku ceritain”
Bel
masuk kelas pun berbunyi, aku segera masuk kelas. Dan aku mengikuti pelajaran
yang berlangsung hingga usai. Pulang sekolah biasanya aku jalan sendiri, jarak
rumah deket.
“Ciiye Idaa” goda Layla
“Ada apa sih?” tanyaku penasaran.
“Tuh, orang yang di depan gerbang pake tas item ada corak biru, itu orang yang
mau ketemu kamu.”
“Ha? Siapa dia? Namanya siapa?”
“Dia Tyo, anaknya pendiem banget, dia sahabat karib Raffi sama Adi”
Tanpa
kata-kata apapun aku bergegas pulang, dalam perjalananku aku memfikirkan semua
hal yang Layla beritahu tadi. Yah, Tyo, aku masih tidak menyangka kenapa dia
mau bertemu, kenapa harus lewat temennya? Ah mungkin dia malu. Ya udahlah.
Hari
ini mulai muncul kabar buruk, banyak yang menyangka bahwa aku ini adalah pacar
Tyo, padahal bukan sama sekali. Aku kenal sama dia aja baru kemarin. Di
sela-sela pelajaran aku gunakan untuk menuliskan sebuah kata-kata. Sepertinya
aku memang benar-benar jatuh hati pada Tyo, “ahhh, kenal langsung aja belum
kayaknya mustahil deh” kata itu selalu muncul di benakku.
Saat
jam istirahat, aku selalu melewati kelasnya. Aku selalu melihat tingkah
lakunya, yang terkadang membuatku tersenyum-senyum sendiri. Oh mungkin inikah
cinta? Aku pernah merasakannya tetapi aku tak ingin merasakannya lagi untuk
saat ini.
Setelah
kita kenal begitu lama, aku mengenal dia dengan ramah, dengan baik, walaupun
diantara kita tak pernah ada satu perkataan. Tiba-tiba semua perasaanku
menjelma, berubah entahlah seperti apa isi otakku. Aku menyukainya, aku
menyayanginya. Aku yakin dia pun begitu, tapi aku tidak pernah pecaya itu, aku
tidak pernah percaya bila ia menyukaiku juga, aku hanya berharap begitu banyak
padanya.
Hari
ini ekstra pramuka sebenarnya, aku sama Tyo mau bicara tapi dia tetap tidak
mau. Dia tetap tak membuka kesempatan untuk perasaan kita. Tapi aku masih yakin
bila dia benar-benar mencintaiku. Sore itu aku hanya pulang dengan semua mimpi
ku yang telah pupus. Aku tak membawa secuil harapan lagi untuk rasaku ini.
Malam
ini aku tulis surat untuk nya. Aku harap ada sedikit respon darinya. Dan respon
itu tidak membuatku patah hati dan patah semangat. Aku tahu Tuhan pasti mengerti
disetiap mimpi dan harapanku.
Setelah
selesai aku pun tidur. Hari ini aku sengaja bangun pagi, selain aku piket aku
juga ingin melihatnya lebih awal, hehe. Aku datang pertama di sekolah, datang
pertama juga di kelas, aku langsung piket, bersihkan semuanya. Setelah selesai,
aku kasih surat itu langsung ke dia. Aku tak pernah mengira hal buruk apapun
akan menimpa kita setelah surat itu kau baca. Tiba-tiba Imma datang mengetuk
pintu kelasku. Dia meminta ijin dahulu, lalu memanggilku untuk menemuinya. Aku yang
bingung, langsung saja aku menurut.
“Nich surat dari Tyo!” kata Imma sambil memberikan surat dari Tyo.
“Apa ini? Jawaban suratku tadi pagi ya?”
“Iyaa, baca aja, dia bilang dia minta maaf kalo udah nyakitin perasaan kamu,
dia gak bermaksud kayak gitu, ya udah baca aja.”
“Iyaa, makasiih udah ngaterin suratnya, aku titip salam buat dia”
Seketika
aku menangis, air mata ini sudah tak bisa ku tahan lagi. Tetes demi tetes mulai
membasahi wajahku. Lalu ku hapus lagi begitu pun seterusnya. Aku masuk kelas
dan aku lanjutkan pelajaran yang sempat tertunda, aku anggap saja ini semua
tidak pernah terjadi.
“Ada apa sih, Yuk?” Tanya Ega.
“Di.. dia.. dia udah jawab semuanya” kataku terbata-bata
“Jawab apa? Bukannya diantara kalian itu tak pernah ada apa-apa?”
“Dia gak suka aku Ga, aku sih fine tapi kenapa sih yang nganter harus Imma,
dulu pas kamu sama Raffi putus, Imma juga kan yang nganter?”
“Iya ya, kok aku lupa ya? Ya udah deh, kamu yang sabar aja, cowok itu gak Cuma
satu kok, gak Cuma dia doang”
“Iyaa Ga, makasiih” jawabku sambil mengusap air mataku
“Iya sama-sama”
Sulit
menjalani hari tanpanya lagi, walaupun kita hanya sebatas gebetan, tapi
ternyata hal itu membuat kita menjadi bersahabat. Berbulan-bulan aku nanti
jawabanmu lagi. Tapi ternyata jawaban itulah yang sudah kamu tetapkan. Aku
hanya pasrah, aku menangis, bagaimana tidak jika seseorang yang aku sukai ternyata
telah membuatku menangis.
Aku
berharap suatu saat nanti Tuhan mempertemukan kita, dan Tuhan izinkan kita
bersama. Jika Tuhan tidak mentakdirkan kita bersama biarlah perasaan itu
menjadi sebuah kenangan masa SMP kita.